Wisata Religi Di malang Raya

Malang sebagai kota yang penuh dengan tempat wisata tentunya terdapat ikon wisata di beberapa daerah yang domisili di malang selain terkenal dengan tempat wisatanya yang beragam seperti wisata sumber airnya yang menyegarkan dan juga malang terkenal dengan kota yang penuh history beberapa penting di nusantara pernah menghaisi malang selain itu berkaitan dengan history malang mempunyai wisata religi andalan yang ada di kota ini, di kesempatan ini saya akan membahas wisata religi yang ada di malang raya.

1. Makam Ky Ageng Gribig

Komplek makam Ki Ageng Gribig terletak di jalan Ki Ageng Gribig gang II, kelurahan Madyopuro, kecamatan Kedungkandang, kota Malang. Tak hanya makam Ki Ageng Gribig, dalam komplek makam tersebut terdapat pula makam para Bupati Malang yang pernah memerintah pada akhir abad ke-19 hingga abad ke-20.Salah satunya, terdapat makam R.A.A Notodiningrat, Bupati Malang yang pertama. Bupati Notodiningrat adalah orang yang yakin akan kisah Ki Ageng Gribig sebagai sosok pendiri cikal-bakal Malang. Setelah menemukan makam Ki Ageng Gribig, Bupati Notodiningrat kemudia membangun dan memelihara makam tersebut. Notodiningrat adalah sosok yang membangun makam Ki Ageng Gribig sebagai makam keluarga dan berlangsung turun-temurun.Komplek makam Ki Ageng Gribig merupakan salah satu tempat yang dikeramatkan. Pada waktu tertentu, ada saja peziarah yang datang meramaikan makam. Peziarah tersebut umumnya datang dengan tujuan khusus, seperti mencari berkah keselamatan, penglarisan, dan bahkan berburu pusaka.Sebenarnya, makam Ki Ageng Gribig tak hanya diyakini berada di kota Malang. Makam Ki Ageng Gribig juga diyakini berada di desa Krajan, kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Setiap perayaan haul Ki Ageng Gribig, warga setempat menggelar tradisi Saparan Yaqowiyu. Sebuah ritual penyebaran kue apem yang biasanya akan diperebutkan oleh pengunjung. Tradisi tersebut biasanya diadakan sekitar tanggal 15 bulan Safar pada penanggalan Hijriyah.

Ki Ageng Gribig sendiri merupakan seorang tokoh penyebar Islam yang tersohor pada tahun 1600-an. Kisah menyebutkan, Ki Ageng Gribig merupakan sosok yang memiliki hobi berkelana ke tempat-tempat jauh. Tujuannya, ia ingin memperkuat iman sambil menimba ilmu.

Hingga suatu hari, Ki Ageng Gribig menemukan sebuah tempat di tengah hutan lebat. Merasa cocok dengan tempat tersebut, Ki Ageng Gribig kemudian membabat hutan tersebut dan menjadikannya sebagai pemukiman. Tempat itulah yang menjadi cikal-bakal berdirinya sebuah daerah yang kini dikenal dengan nama Malang.

2. Pesarean Gunung Kawi

Pesarean Gunung Kawi terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, atau berada di lereng selatan Gunung Kawi. Dari kota Malang sekitar 38 km, bisa ditempuh selama 1-1,5 jam perjalanan menggunakan kendaraan.  Selain menggunakan kendaraan pribadi, angkutan umum telah tersedia hingga lokasi. Jadi jalur menuju pesarean Gunung Kawi atau biasa dikenal juga sebagai pesarean mbah Djoego sangat mudah dijangkau.

Letak Pesarean Gunung Kawi berada di lereng gunung Kawi, pada ketinggian 800 mdpl, menjadikannya dilingkupi hawa sejuk dan udara yang bersih. Alam sekitar pesarean juga masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan rindang, menambah keasrian tempat ini.

Sejarah

Pesarean Gunung kawi merupakan tempat dimakamkannya dua jenazah berjajar dalam satu liang lahat. Jenazah pertama adalah Kanjeng Kyai Zakaria II atau lebih dikenal dengan sebutan mbah Djoego, seorang ulama terkenal dari keraton Mataram Surakarta, beliau meninggal pada tanggal 22 Januari 1871 M. Kedua adalah jenazah Raden Mas Iman Soedjono, seorang bangsawan yang menjadi senopati/panglima perang dari Keraton Yogyakarta, beliau meninggal pada tanggal 8 Februari 1876 M.

 

peziarah

Pengunjung atau peziarah pesarean gunung Kawi selalu ada setiap harinya dan melonjak hingga ribuan orang pada hari-hari tertentu. Terutama pada hari jumat legi yang merupakan hari dimakamkannya mbah Djoego dan puncaknya pada tanggal 12 Suro (Muharam) setiap tahunnya. Yaitu untuk memperingati wafatnya Raden Mas Imam Soedjono, dengan mengadakan tahlil akbar.

 

Setiap pengunjung atau peziarah umumnya memiliki motivasi yang beragam ketika datang kesini. Bagi wisatawan biasa, mungkin hanya sekedar memenuhi rasa penasaran dan menikmati kesegaran udara dan suasana gunung kawi. Sedangkan mereka yang benar-benar sebagai peziarah, bisa melakukan ritual religi sesuai dengan keyakinannya.

 

 

You may also like...